Kamis, 05 Juli 2012

Tinjauan Pustaka Tanaman Sagu

Tanaman Sagu


Sagu (Metroxylon sp) merupakan salah satu jenis tanam pangan non biji yang telah cukup banyak dikenal oleh penduduk Indonesia terutama di kawasan yang memiliki sedikit sawah. Beberapa daerah di Maluku telah mengkonsumsi sagu sebagai makanan pokok.

Sagu yang merupakan tanaman penghasil karbohidrat yang potensial di Indonesia dapat digunakan untuk penganekaragaman pangan sesuai dengan INPRES No. 20 tahun 1979 (Haryanto dan Pangloli dalam Bintoro, 2008). Sagu merupakan sumber karbohidrat penting di Indonesia dan menempati urutan ke-4 setelah ubikayu, jagung dan ubi jalar (Lestari et al., 2009).

Tanaman sagu memiliki kandungan jumlah pati yang cukup banyak. Jika dihitung jumlah pati yang dapat sagu hasilkan, maka akan terlihat perbandingan yang cukup besar antara jumlah pati yang dihasilkan oleh tanaman sagu satu hektar dengan tanaman jagung atau padi satu hektar.

Pati yang terdapat dalam satu batang sagu berkisar 200-400 kg. Beberapa peneliti jepang menemukan pohon sagu yang mengandung pati 800-900 kg/batang sagu. pati sagu mengandung 84.7% karbohidrat yang terdiri atas 73% amilopektin dan 27% amilosa (Wiyono dan Silitonga dalam Bintoro, 2008). Pengolahan sagu hanya menghasilkan pati sekitar 16-18% dari bobot total batang sagu yang termanfaatkan.

Pertumbuhan Tanaman Sagu


Tanaman sagu merupakan tanaman yang berkembangbiak dengan meng-hasilkan anakan. Dalam satu indukan tanaman sagu mampu menghasilkan anakan yang cukup banyak. Pada umur 4-5 tahun, anakan sagu mulai membentuk batang, kemudian pada sekitar batang bagian bawah tumbuh tunas-tunas yang berkembang menjadi anakan (sucker) (Bintoro, 2008). Flach (1983) dalam Bintoro (2008) mengatakan, pada kondisi tanaman yang baik setiap 3-4 tahun dua anakan akan berkembang menjadi pohon.

Seperti tumbuhan pada umumnya, tanaman sagu melewati periode per-tumbuhan vegetatif dan generatif. Periode vegetatif diawali dengan fase pertumbuhan anakan atau semaian, selanjutnya memasuki fase sapihan yaitu telah muncul sistem perakaran pada anakannya.

Fase selanjutnya adalah fase pertumbuhan yang biasa disebut dengan fase tiang yaitu anakan telah tumbuh mandiri dan telah membentuk pelepah daun yang keras. Setelah melewati fase tiang, tanaman sagu mulai membentuk batang, fase tersebut dinamakan fase pohon. Pada fase pohon tanaman sagu telah memiliki tinggi >5 m.

Fase pohon menjadi batas antara periode vegetatif dengan periode generatif. Pada awal periode generatif dimulai dengan fase masak tebang, selanjutnya tanaman sagu akan melalui fase putus duri, yang pada saat tersebut sebagian duri pada pelepah daun telah lenyap. Fase berikutnya adalah fase daun pendek “maputi”.

Pada fase tersebut tanaman sagu sudah siap untuk dipanen batangnya. Beberapa fase berikutnya adalah fase jantung “maputi masa”, sirih buah, dan terakhir fase lewat masak tebang, yang pada saat tersebut tanaman sagu melewati masa pembentukan bunga hingga berbuah dan mati.

Penanaman Sagu


Penanaman sagu dilapangan sebelumnya telah melalui proses persemaian terlebih dahulu. Persemaian dilakukan selama 3 bulan dan dilakukan di kanal dengan menggunakan rakit yang terbuat dari pelepah sagu atu rangka bambu. Sebelum dilakukan persemaian, bibit sagu dipangkas daunnya terlebih dahulu dengan ke-tinggian pangkas 30-50 cm dari banir (bonggol).

Fungsi dari pemangkasan adalah agar evaporasi dapat ditekan dan untuk mempercepat pemunculan calon tunas pertama yang selanjutnya akan menjadi daun. Selain itu bibit perlu dicelupkan kedalam larutan fungisida untuk mencegah timbulnya cendawan selama persemaian.

Setelah 3 bulan dipersemaian bibit diangkut dan dipindahkan ke lapangan tempat dilakukanya penanaman. Pada penanaman dilapangan, terlebih dahulu di-lakukan pengajiran hal ini dimaksud untuk menandai tempat dibuatnya lubang tanam beserta penentuan jarak tanam. Jarak tanam antar ajir 10 m x 10 m bila pada kebun diusahakan sistem tanam monokultur, tetapi bila diusahakan dengan tumpang sari jarak tanam yang digunakan antar ajir 10 m x 15 m (Bintoro, 2008).

Lubang tanam dibuat dengan ukuran 30 cm x 30 cm x 30 cm, tetapi kedalaman lubang tanam yang ideal adalah ketika lubang tanam telah menncapai permukaan air tanah. Dalam maksimum dari lubang tanam yang dibuat ± 60 cm.

Bibit sagu segera ditanam setelah selesai pembuatan lubang, pada bagian rhizome yang dipotong harus ditutup dengan tanah agar tidak terkena serangan hama dan penyakit. Daun yang baru tumbuh juga pucuk daun dipotong agar tidak terjadi kerusakan atau patah. Abut yang telah ditanam diberikan dua potong kayu yang berfungsi sebagai penguat abut agar tidak hanyut bila terjadi penggenangan.

Daun dan Fungsinya


Daun merupakan salah satu organ yang dimiliki tanaman yang bermanfaat untuk melakukan sebagian besar kegiatan pengubahan ikatan-ikatan kimia sehingga dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Daun memiliki stomata dan klorofil yang berfungsi saat daun akan melakukan fotosintesis. K

lorofil atau biasa disebut dengan zat hijau daun, menjadi bagian dari daun yang menyerap radiasi matahari. Agar dapat memanfaatkan radiasi matahari secara efisien, tanaman budidaya harus dapat menyerap sebagian besar radiasi tersebut dengan jaringan fotosintesisnya yang hijau.

Spesies tanaman budidaya yang efisien cenderung menginvestasikan sebagian besar awal pertumbuhan mereka dalam bentuk penambahan luas daun, yang berakibat pemanfaatan radiasi matahari yang efisien.

Perkembangan luas daun pada tanaman budidaya menyebabkan peningkatan penyerapan cahaya oleh daun. Penyerapan radiasi tersebut dipengaruhi oleh indeks luas daun pada tanaman (Leaf Area Index). Indeks luas daun menunjukan rasio permukaan daun terhadap luas tanah yang ditempati oleh tanaman budidaya. Daun menyerap cahaya matahari secara langsung maupun tidak langsung.

Daun-daun sebelah atas menerima radiasi langsung dan radiasi difusi, sedangkan daun-daun yang lebih bawah dalam tajuk menerima sebagian kecil radiasi langsung. Radiasi tidak langsung menjadi lebih nyata disebabkan oleh radiasi yang dipancarkan melalui daun-daun dan direfleksikan dari tanaman serta permukaan tanah.

Daun juga menjadi salah satu pintu keluarnya air dari dalam tanaman, yaitu melalui proses transpirasi. Transpirasi merupakan proses penguapan air yang terjadi pada tumbuhan disiang hari. Transpirasi melalui daun terjadi apabila air berdifusi melalui stomata.

Apabila aliran udara menghembuskan udara lembab di permukaan daun, perbedaan potensial air di dalam dan di luar lubang stomata akan meningkat dan difusi air bersih dari daun juga akan meningkat. Daun menjadi faktor terbesar dari terjadinya transpirasi. Diantaranya beberapa pengaruh daun yang mempengaruhi transpirasi yaitu: penutupan stomata, jumlah dan ukuran stomata, jumlah daun, dan penggulungan atau pelipatan daun.(MUHAMMAD IQBAL NURULHAQ / A24080001)
◄ Newer Post Older Post ►