Rabu, 05 Januari 2011

Pertanyaan yang biasa di lontarkan Pasangan Baru Menikah

Bagi kebanyakan perempuan, terutama pengantin baru, kunjungan ke dokter kebidanan dan kandungan seringkali malah memancing lebih banyak pertanyaan dibandingkan jawaban. Apakah ini normal? Mana yang tidak normal? Jadi, apa hubungannya badan meriang dengan bulan madu? Dan lain sebagainya. Supaya tidak terus bingung, simak tujuh pertanyaan yang paling sering diajukan para pasangan baru kepada dokter kebidanan dan kandungan di bawah ini. Plus jawabannya!
1. Mengapa pulang bulan madu, saya merasa anyang-anyangan dan badan meriang?

Mungkin Anda terkena Honeymoon Cystitis. Honeymoon Cystitis adalah peradangan saluran dan kandung kemih akibat infeksi. Penyakit ini paling sering terjadi pada masa bulan madu, saat kedua mempelai baru pertama kali melakukan hubungan seksual dengan frekuensi yang relatif lebih sering. Saat hubungan seksual terjadi, bakteri yang tadinya hidup normal di dalam vagina akan terdorong masuk ke saluran kemih. Bakteri tersebut kemudian melekat pada dinding bagian dalam saluran dan kandung kemih, dan berkembang biak menyebabkan infeksi dan peradangan. Jika gejala yang Anda alami terasa berat, segeralah berobat ke dokter. Cara efektif untuk mencegah penyakit ini adalah dengan berkemih sebelum dan sesudah melakukan hubungan seksual agar bakteri terdorong keluar, dan banyak minum air putih.
2. Mengapa setelah beberapa kali melakukan hubungan intim, saya tetap mengalami pendarahan dan gatal-gatal pada vagina?

Pasangan baru biasanya sangat excited melakukan hubungan intim sehingga tidak sadar keasyikan barunya tersebut menyebabkan iritasi. Iritasi inilah yang mungkin menyebabkan rasa gatal dan pendarahan pada vagina. Kemungkinan penyebab lainnya, adanya alergi akibat masuknya benda asing ke dalam tubuh, misalnya alergi sperma dan kondom dan karena jamur di dalam vagina karena kurang menjaga kebersihan. Tambahan informasi, karet kondom terkadang menyebabkan rasa sakit pada beberapa perempuan yang baru sekali melakukan hubungan seksual.
3. Katanya risiko kanker leher rahim semakin meningkat setelah aktif secara seksual. Kalau begitu, kapankah saat yang tepat untuk melakukan pap smear?

Kanker mulut rahim adalah jenis kanker yang berkembang sangat lambat dan tidak ada hukum yang mengharuskan kapan pap smear harus dilakukan setelah pernikahan. Yang jelas, memang risiko kanker mulut rahim memang meningkat setelah seorang perempuan aktif secara seksual. Sedangkan perempuan yang belum pernah melakukan hubungan seks, bagian vaginanya masih memiliki banyak lapisan pelindung seperti selaput darah dan juga mukosa atau cairan yang melindungi vagina dari bakteri yang ada di sekitarnya. Pap smear sebaiknya dilakukan secara rutin, setahun sekali bagi yang berumur kurang dari 40 tahun dengan gaya hidup normal (misalnya tidak melakukan seks bebas atau berganti-ganti pasangan).
4. Benarkah kontrasepsi bisa menurunkan kesuburan?

Ya, kabar mengenai hal ini telah lama menjadi perhatian para dokter, walau tidak semua pasangan mengalami kesulitan memiliki anak setelah mengakhiri KB. Konon, kontrasepsi sementara yang berujung pada kondisi sulit hamil, sebenarnya merupakan teka-teki besar bagi dunia kesehatan. Majalah Health Journal memaparkan, 48 persen perempuan muda yang menggunakan pil antihamil dan spiral KB (IUD) selama 2-4 tahun, mengalami sulit hamil saat menginginkan anak pertama. Sejumlah ahli infertilitas Barat pun kemudian melakukan penelitian dan menemukan fakta bahwa faktor antibodi antisperma pada wanita bisa memicu kegagalan kehamilan. Kondisi ini terjadi lantaran merosotnya potensi sperma dalam membuahi ovum (sel telur) dalam tubuh wanita. Muncul dugaan kuat bahwa penggunaan alat kontrasepsi seperti pil atau suntik KB - yang berisi hormon penolak pembuahan -- serta IUD dalam jangka waktu tertentu jadi penyebab meningkatnya antibodi antisperma. Dengan kata lain, pada tubuh perempuan terlanjur timbul kontrasepsi alami yang menolak kehadiran sperma. Bagi pasutri yang mengalami hal ini dianjurkan untuk menjalani terapi kondom atau sarung KB. Jadi, setelah menghentikan menggunakan obat antihamil, selama 6-10 bulan berikutnya sebaiknya menggunakan sarung KB.
5. Bisakah saya mendapat kanker karena seks oral?

Beberapa penyakit menular seksual bisa menular melalui seks oral, misalnya herpes, kencing nanah, sipilis, HIV, dan HPV (Human Papilloma Virus). HPV merupakan penyebab kanker leher rahim. Sebuah artikel yang dimuat dalam New England Journal of Medicine menyebutkan hubungan yang erat antara seks oral, HPV, dan kanker tenggorokan. Untuk melindungi diri Anda, apapun kegiatan seksual yang Anda lakukan, perlakukanlah secara sehat, bersih, dan wajar.
6. Saking semangatnya bercinta, saya pernah lupa menggunakan alat kontrasepsi. Apakah penggunaan pil KB darurat bisa diandalkan untuk mencegah kehamilan?

Sesuai dengan namanya, pil KB darurat atau biasa disebut “morning-after pill” memang digunakan untuk mencegah kehamilan setelah melakukan hubungan seksual tanpa pelindung. Pil KB darurat ini bekerja dengan cara mencegah terjadinya ovulasi atau pembuahan dan mencegah embrio melekat ke dinding rahim.
7. Sudah 3 bulan menikah, suami saya masih saja mengalami ejakulasi dini. Apakah ini bisa membuat saya sulit hamil?

Ejakulasi dini bagi pria yang baru atau belum lama mendapatkan pengalaman seksual adalah hal biasa, karena ia belum dapat mengontrol ritme dalam berhubungan intim. Ejakulasi dini tidak ada hubungannya dengan kehamilan selama sperma keluar di dalam liang vagina dan dapat membuahi sel telur. Ada berbagai macam sebab mengapa sperma tidak bisa membuahi sel telur, antara lain karena kurang jumlah (kurang dari 250 juta) atau gerakannya kurang lincah. (berbagai sumber-Lily)
◄ Newer Post Older Post ►