Sabtu, 08 Oktober 2011

Lelaki Penggenggam Hujan

“Jika kalian ingin melakukan pembalasan, balaslah sesuai dengan yang mereka lakukan kepadamu, tetapi sesungguhnya memberikan maaf itu jauh lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” (hal. 38).

Sebuah fiksi-sejarah agama
Setiap pagi, seorang lelaki dengan penuh kasih sayang melunakkan makanan dalam rongga mulutnya untuk kemudian disuapkan kepada seorang pengemis buta dan renta. Setiap pagi pula, lelaki yang selalu membawakan makanan untuk pengemis itu akan dijejali dengan nasihat yang sama. “Jangan engkau mendekati Muhammad karena dia orang gila, pembohong, dan tukang sihir! Jika engkau mendekatinya, engkau akan dipengaruhinya.” Selalu begitu setiap pagi, hingga si pengemis itu kenyang dan merasa bahwa ia telah membalas kebaikan lelaki itu dengan nasihat-nasihat yang selalu sama setiap pagi.

Kelak, pengemis itu kemudian mengetahui bahwa lelaki yang telah menolongnya untuk bertahan dan melanjutkan hidup itu adalah lelaki yang sama yang selalu disebutnya orang gila, pembohong, dan tukang sihir. Lelaki itu adalah Muhammad.

Diatas adalah nukilan bagian awal Bab 13 dari novel ‘Muhammad, Lelaki Penggenggam Hujan’ karya Tasaro GK

Apa yang dilakukan seseorang yang senantiasa setiap pagi sama saja dengan surga.
Dia tidak perlu melakukan apa-apa. Hanya mengangakan mulutnya, makanan yang halus siap telan telah berpindah ke rongga mulutnya. Orang itu mengunyahkan makanan untuk dia dengan mulutnya sendiri. Perlahan-lahan sampai tandas seluruh makanan yang ia bawa.

“Janganlah engkau mendekati Muhammad,” si tua itu mengulangi kalimatnya. Seolah dia mendapat layanan ekstra dari orang tak dikenalnya itu karena kalimat-kalimat yang ia ucapkan, “ Jangan…karena dia orang gila, pembohong, dan tukang sihir! Jika engkau mendekatinya engkau akan dipengaruhinya.” 

Orang itu (Muhammad) tersenyum. Tidak bersuara. Dia bangkit perlahan setelah memastikan si tua selesai dengan makanannya. Lelaki itu bangkit lalu menderap meninggalkan si pengemis. Langkahnya tegap dan terukur. Ritmis dan berpendar wibawa. Lelaki itu … dirimu, wahai Muhammad Al-Mustafa.

Renta, buta, pengemis dan dia seorang Yahudi. Lelaki tua (sang pengemis) itu mendudukkan badan ringkihnya seperti kain usang yang teronggok. Kepala bergerak-gerak, telinga menjadi matanya. Seperti kemarin, jarang yang menghampirinya dan melemparkan sejumlah receh untuknya menyambung hidup. Dia menunggu seseorang yang setiap pagi menjadi yang pertama mendatanginya. Pengemis tua itu yakin, pagi ini pun tidak akan ada yang berubah....

... Kisah yang mengingatkan saya pada sebuah quote, kalau tidak salah bunyinya begini: "Perbuatan baik yang utama adalah perbuatan baik yang tidak diketahui orang lain." Kita pasti berpikir yang dimaksud 'orang lain' disini pada umumnya bisa jadi adalah teman-teman kita, kerabat kerja maupun saudara, pokoknya tendensinya yang berkonotasi orang lain, dan mereka itu tidak boleh tahu. Tapi lucunya disini kebetulan 'sang penerima kebaikan' adalah ternyata juga si 'orang lain' sendiri yang justru memusuhi Beliau.

Setiap membaca kisah hidup dan perjuangan Nabi Muhammad, selalu terbetik dalam hati, jadi apakah saya jika hidup sezaman dengan Rasulullah. Apakah saya termasuk orang-orang yang pertama-tama berserah diri, ataukah menjadi penentang Nabi yang paling fanatik.

Apakah kira-kira yang akan dikatakan Rasullullah, ketika melihat para penghujatnya masa kini, yang menghina, menfitnah, dan membuat karikaturnya. Terbayang olehku, dia hanya akan tersenyum dan berkata "Mereka tidak mengerti" karena Rasulullah adalah manusia yang paling pemaaf, yang paling menyerap sifat ArRahman Tuhannya.

Apakah kira-kira yang akan dikatakan Rasullulah, ketika melihat orang yang mengaku sebagai pembelanya masa kini, yang bereaksi marah, mengamuk, dan anarkis atas semua hujatan itu. Akankah senyum merekah diwajahnya atau kekecewaan yang terbayang ? "Mereka tidak mengerti." 

Ada pepatah populer, "Semut saja menggigit, kalau dirinya di injak-injak, apalagi kita manusia."

Ironis.

Terharu..??

Sungguh Seorang yang benar-benar baik, seorang yang penuh kasih, seorang tauladan yang juga pembawa kebenaran sejati...
“Jika kalian ingin melakukan pembalasan, balaslah sesuai dengan yang mereka lakukan kepadamu, tetapi sesungguhnya memberikan maaf itu jauh lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” (hal. 38).

Ya Allah, berkatilah Muhammad dan keturunannya.
.
.
◄ Newer Post Older Post ►