Sabtu, 01 Oktober 2011

"Let Me Stand Alone"

Terbitan Madia Publisher
Kita harus memahami bahwa mereka memimpikan mimpi-mimpi kita, dan kita memimpikan mimpi-mimpi mereka.”—Rachel Corrie

Judul: Let Me Stand Alone (Biarkan Aku Berdiri Sendirian)
Judul Asli: Let Me Stand Alone (The Journals of Rachel Corrie)
Penulis: Rachel Corrie
Pengantar: Goenawan Mohamad
Tebal: xiii+526 halaman
Cetakan: Pertama, Agustus 2008
Penerbit: Madia Publisher 

Datang dari Amerika, Mati Demi Palestina

"Mereka adalah kita. Kita adalah mereka.” Itu adalah salah satu bagian penting dari catatan harian Rachel Corrie yang mengekspresikan penulisnya sebagai pengusung plularisme universal, cinta damai dan menolak semua bentuk kekerasan di seluruh belahan dunia.
"Mereka adalah kita. Kita adalah mereka.”
Rachel Corrie bukan seorang senator atau pesohor Hollywood seperti Paris Hilton–kendati usianya tak jauh beda–tetapi catatan harian, aktivitasnya, puisi serta sketsanya telah menerebos batas-batas negaranya yang rigid, rasis dan superior.

Rachel Corrie adalah martir kemanusian yang tewas mengenaskan pada usia 23 tahun setelah digilas buldoser Israel buatan Amerika Serikat. Rachel Corrie tewas saat berusaha menggagalkan penghancuran sebuah rumah milik warga Palestina, 16 Maret 2003.

Ruh dan semangat Rachel Corrie telah menembus belahan dunia khususnya Rusia dan Palestina. Saat menginjakan kakinya di Rusia pada 1995, sebagai relawan kemanusiaan International Solidarity Movement (ISM), Rachel mulai merasakan Amerika Serikat yang asing.

“Amerika tak mempesonaku lagi. Ia tak mampu memikatku lagi. Ia pudar dan terlipat di pinggiran pikiranku….”

Rachel Corrie lahir di Olympia, Washington, 10 April 1979. Sejak kelas lima sekolah dasar ia sudah meneliti tentang kemiskinan dan masuk ke dalam laporan UNICEF dalam World’s Children 1989.

Pada saat SMA, ketika remaja lainnya tengah tidur pulas atau menarik mantelnya karena kedinginan, Rachel malah mengetuk hati setiap pengunjung supermarket untuk mendonasikan sebagian uang atau makanananya untuk orang miskin.

“Sekaleng makanan dari Anda, segudang manfaat bagi mereka yang kelaparan,” kata Rachel kepada setiap pengunjung supermarket. (hal xxvii).

Mengenai sikap dan kepeduliannya terhadap kemanusiaan sangat terang benderang dan terlihat dalam catatan tanggal 15 Desember 1992 atau sekitar usia 13 tahun:

“Kuingin menjadi seorang artis atau penari. Kumau mengubah dunia. Ku tak ingin gunakan obat-obatan. Bisa saja kutenggak alkohol sebelum cukup usia, tapi aku tak pernah merencanakannya. Kupercaya, jati diri didapat melalui proses, bukan melaui narkoba.”

Atau dalam tulisan tertanggal 9 Maret 1993, Rachel kembali menegaskan sikapnya untuk tidak hidup dalam hedonisme dunia yang tengah menjadi budaya mayoritas gadis seusianya.

Megan Dodds (Rachel Corrie)
Megan Dodds (Rachel Corrie). MY NAME IS Rachel Corrie produksi Royal Court . Diedit dan Disutradarai oleh Alan Rickman. Foto oleh Stephen Cummiskey.
“Ketika aku jadi perawan tua, kusudahi untuk tampil cantik menawan. Merias wajah, mengoleksi baju ketat agar tubuh seolah elok, takkan kulakukan. Ku akan anut aliran Nudisme.”

Jiwa seniman dan kepenyairan yang dimiliki alumnus akademi seni ini semakin membuat tulisan dan sketsanya berjiwa, hidup dan humoris kendati ditulis dalam keadaan tegang suasana daerah pendudukan. Tulisan-tulisannya dikirim lewat surat elektronik (email) ke keluarganya dan beberapa di antaranya dimuat di media lokal.

Namun, tulisan-tulisan dan sketsanya baru membuat dunia tercengang ketika hampir seluruh catatan hariannya dimuat di harian The Guardian Inggris, dengan tajuk “Rachel’s War.”

Kata-kata terakhir: Rachel Corrie memberikan wawancara kepada sebuah stasiun televisi Saudi hari sebelum dia dibunuh pada tahun 2003, melindungi rumah seorang Palestina di Gaza. (Lorenzo Scaraggi / Getty Images)
Catatan harian Rachel Corrie ini semakin menegaskan bahwa segala bentuk kekerasan bukan sebuah solusi dan malah akan menghancurkan peradaban dunia. Dunia tanpa kekerasan menjadi cita-citanya.

Tulisan-tulisan Rachel Corrie memberikan inspirasi bahwa usia muda bukan saatnya untuk hidup dalam hedonisme, narkoba dan menghabiskan duit untuk bersolek diri. Jati diri juga dapat diperoleh lewat kepedulian dan aksi nyata untuk menciptakan dunia yang damai dan bebas dari kemiskinan.

Rachel Corrie juga ingin menegaskan bahwa masalah Palestina bukan hanya masalah dan beban bangsa Palestina semata tetapi juga tanggung jawab dan empati dunia termasuk Amerika Serikat.

*Peresensi diatas adalah Yayat R Cipasang,  Direktur Eksekutif Institute for Press and Cultural Studies (IPCS) Depok, Jawa Barat. Lahir dan dibesarkan di sebuah udik di Priangan Timur, tepatnya di Ciamis, 29 Maret 1973. Sejumlah tulisan berupa feature, resensi buku, dan artikel dimuat di Kompas.com, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Waspada, Sinar Harapan, Suara Karya, Berita Buana, Tabloid Wanita Indonesia, Majalah Pantau, Jurnal Demokrasi Sosial FES dan Reader's Digest Indonesia. [kangyayat@gmail.com]



Let Me Stand Alone: The Journals of Rachel Corrie

Rachel A Daring Soul !!
"Rachel Corrie adalah seorang visioner didorong oleh intensitas moral yang tajam yang tak ada henti-hentinya. Buku ini mengungkapkan kedalaman sebuah kebijaksanaan, puisinya, kemanusiaan, dan keinginannya untuk mengubah suatu penderitaan. Ia juga mengungkapkan soliternya perjuangan dan keberanian dari wajah dunia yang terkadang kejam dan tak berperasaan. Let Me Stand Alone merupakan pembuktian dari seorang perempuan muda seberapa dalam kita memerlukan kekuatan dan visi dan energi untuk mengubah sebuah dunia. Ini harus dibaca oleh semua orang." ~Hawa Ensler 

Tentang Let Me Stand Alone:
Publisher: W W Norton & Co Inc. Maret 2009
Design: Bats4bones Design Inc. B. Middleworth

Suara seorang wanita muda yang intens dan puitis yang bergulat dengan ide-ide universal. Bagaimana kita menemukan jalan kita di dunia? Bagaimana tindakan kita mempengaruhi orang lain? Apa yang kita berutang seluruh umat manusia?
Ini adalah pertanyaan yang jelas dan terus menerus didengungkan oleh Rachel Corrie, seorang aktivis muda Amerika tewas pada 16 Maret, 2003, saat ia mencoba untuk memblokir pembongkaran sebuah rumah seorang keluarga warga Palestina di Jalur Gaza.
"Let Me Stand Alone merupakan pembuktian dari seorang perempuan muda seberapa dalam kita memerlukan kekuatan dan visi dan energi untuk mengubah sebuah dunia." ~Hawa Ensler
Perempuan dua puluh tiga tahun.

Let Me Stand Alone adalah sebuah persembahan pengukuhan Corrie sebagai penyair dan penulis, berisi tulisan, puisi, dan gambar-gambarnya, yang menceritakan kisahnya dengan kata-katanya sendiri, dari sebuah kedewasaan yang sebenarnya belum waktunya, refleksi dirinya sebagai seorang gadis muda pada kiriman-kiriman email terakhirnya.

Tulisannya membawa kita semua ke kehidupan yang lebih berarti, tampil dengan usia yang masih sangat muda, dan rasa akan kehausan akan sebuah cita-cita diri, yang kemudian berkembang dan berkoneksi ke orang lain, baik yang dekat sampai yang terjauh.

Untuk sumber lebih detail lihat di: www.letmestandalone.com

*mixing 

Posting terkait: “My Name is Rachel Corrie”

.
.

◄ Newer Post Older Post ►